Pagi-pagi kami sudah mendaki, jalan setapak tepi hutan, di
tengah lautan pohon teh peninggalan Belanda, yang kini dimiliki perusahaan
pemerintah. Sasaran kami adalah rimbunan hutan Perhutani, sekira 3 kilometer
berjalan kaki dari jalan raya Cisarua Lembang. Tujuan, historical walk seperti
yang dilakukan para ambtenaar mengawasi perkebunan kopi perdana penghasil
gulden, sebelum Indonesia merdeka.
Sejuk, basah embun, dan segar aroma terapi dari beragam
tumbuhan kaki gunung, menyambut lima manusia kota pencinta antioksidan hitam
yang paling banyak diminum di seluruh dunia. Kaki gunung Tangkuban perahu ini
mulus udaranya, bersih tanpa asap racun kendaraan dan industri. Ke bawah kami
melihat Bandung Kota, berselimut smog, tempat kami semua berkeluarga dan
bekerja. Jika boleh memilih, kami ingin menancapkan kaki di sini, bergumul
dengan botani asri, dan tak ingin kembali, ke dunia ilusi dan polusi.
Sayangnya hal ini pun hanya mimpi. Hari itu kenyataannya
adalah napak tilas sekaligus olah raga hiking sekaligus survei untuk
feasibility study agribisnis specialty coffee. Setelah mendaki dan turun lagi,
menikmati racikan kopi dari petani sejati, berdiskusi dan negosiasi visi-misi,
kami pasti harus kembali bangkit dari mimpi, dan menjajaki serta mendalami
peluang dan tantangan berusaha tani. Selanjutnya hari-hari akan dipenuhi
promosi dan kompromi dengan kawan-kawan yang berminat investasi. Niat kami
adalah ingin kembali merajut kejayaan anak negeri dalam industri dan seni kopi.
Coffee tour pagi
itu langsung dipandu oleh sang petani kopi penuh dedikasi, Yoseph Kusuniyanto.
Dengan ransel di punggung dan kelewang tebas di tangan, Yoseph berjalan di
depan sambil memberikan kuliah lapangan mountaineering. Sesekali berhenti
sambil menunjukkan panorama indah untuk diabadikan dengan kamerapocket, hape,
dan SLR, yang dimiliki masing-masing turis kaget, yaitu Harris, Dedem, Beben,
dan saya sendiri Dainsyah. Dedem adalah teman se-almamater Yoseph dari PAAP
Unpad; saya dan Harris adalah alumni Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB, dan
Beben adalah lulusan FPMIPA UPI.
Satu jam berlalu, sampailah kami ke tempat yang dituju;
tegakan pinus milik Perhutani, yang disela-selanya ditanami kopi oleh
masyarakat sekitar yang tergabung dalam kelompok tani. Kerjasama ini dilandasi
oleh dokumen legalisasi yang antara lain mengatur larangan menebang Pinus
merkusii dan silakan menanam kopi dengan skema bagi hasil. Tumpang sari pinus-kopi
ini sungguh serasi.
Yoseph bercerita tentang jerih payah para petani peserta
program dalam menyiangi belukar, menyingkirkan gulma, menanam kopi, dan merawat
pohon kopi berupa pemupukan dan pemangkasan beberapa kali, hingga masa panen di
usia 2 tahun. Kopi-kopi yang diurus Yoseph ini sedang belajar berbuah, usia
sekira 1,5 tahun. Kami diijinkan panen hanya buah kopi yang benar-benar matang.
Tidak banyak, tetapi cukup untuk memenuhi tantangan bahwa kopi Lembang jenis
caturra yang dihasilkan di sini tidak kalah dengan sensasi dan sugesti kopi
luwak.
Adalah Harris yang akan menjadi “juri” menjajal bukti
sensasi kopi Lembang, nanti, di rumah Yoseph, sebagai akhir tur kopi ini.
Harris, ahli embriologi bayi tabung ini, telah menikmati segala kopi di
cafe-cafe di Bandung. Sepanjang perjalanan ini, Harris pun berbagi cerita ihwal
kedai kopi dengan berbagai teknik penyajian unik di seantero kota kembang,
mulai seduhan kopi dengan mesin espresso, hingga teknik seduh asal tradisi
Vietnam, Prancis, Turki, Itali, Inggris, dll.
Kembali ke kebun kopi, selain jenis caturra, Yoseph juga
menanam sedikit jenis ateng, yang sesungguhnya lebih populer di kalangan petani
lain. Mengapa lebih suka caturra? Yoseph menjelaskan sejarah panjang riset yang
telah ia lakukan dengan berbagai ragam varietas kopi. Dengan melibatkan barista
dari dalam dan luar negeri, yoseph akhirnya menjatuhkan pilihan pada jenis
caturra.
Kopi arabica caturra berperawakan lebih pendek dan kompas
sehingga lebih mudah dalam pemanenan. Karena jarang dibudidayakan, diharapkan
menguntungkan dalam supplay-demand. Arabica caturra juga unggul dalam aroma dan
rasa sehingga sering menjuarai kontes di festival kopi di seluruh dunia.
Arabica ateng memiliki sosok lebih tinggi dan lebih produktif. Sebagai komoditi
untuk menyuplai industri kopi, menanam ateng jelas lebih menguntungkan, tetapi
untuk kategori specialty coffee, arabica caturra lebih menjanjikan, kata
Yoseph.
Memiliki usaha tani kopi di pinggir kota besar sekelas kota
cerdas Bandung adalahadvantage bagi petani kopi kategori specialty di Lembang.
Apalagi Bandung, yang telah memiliki brand image yang kuat sebagai kota wisata
kuliner, dengan jarak yang sangat dekat dengan Ibukota Jakarta, hanya
perjalanan 3 jam via jalan tol, menjadikan Lembang dan petaninya akan kecipratan
rejeki dari manisnya bisnis biji pahit di Ibukota Asia Afrika ini.
Satu-satunya kendala atas peluang usaha ini adalah masih
rendahnya apresiasi masyarakat kita akan kopi kategori specialty. Diketahui
Indonesia adalah negara terbesar ketiga sebagai produsen kopi di dunia, tetapi
nomor 1 sebagai produsen kopi jenis
arabica. Di negara produsen kopi lainnya, seperti Brasil dan Vietnam,
jenis robusta masih mendominasi. Jenis
kopi arabica dikenal memiliki harga jual yang lebih bagus ketimbang robusta,
yang menang dalam volume. Keunggulan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar
di dunia, sayangnya tidak didukung oleh
jumlah penikmat. Selain kuantitasnya yang rendah, apresiasi terhadap specialty
coffee pun masih rendah. Justru orang eropa menjadi penikmat kopi sejati.
Indonesia yang berada di ring
of fire, dengan rangkaian gunung apinya, dari ujung Sumatera hingga Papua,
memiliki potensi menjadi kekaisaran kopi di dunia. Dengan jenis dan varietas
kopi yang sama, gunung yang berbeda dapat menghasilkan citarasa dan aroma kopi
yang berbeda dan unik. Sebelum mencapai volume produksi yang memadai untuk
syarat ekspor, seyogyanya apresiasi masyarakat dapat menjadi faktor penentu
dalam memajukan agribisnis kopi spesial yang diulas di atas.
Faktor penentu lainnya untuk mendukung kejayaan para petani
kopi specialty, adalah keberadaan para barista. Relasi yang baik antara Yoseph
dan para barista yang sering berkunjung ke rumahnya dan melakukan cupping,
adalah kiat sukses Yoseph dalam meningkatkan harga dan nilai kopinya. Salah
satu barista yang bekerja sama dalam budi daya kopi khusus ini adalah Natanael
Charis,
Natan, begitu panggilan akrab pendiri Morning Glory Academy ini, menyediakan bibit kopi unggul, untuk
dibudidayakan oleh Yoseph di Lembang. Melihat prestasi Natan yang telah
berhasil mencetak kopi yang ditanam di Garut menjadi kopi juara kelas dunia,
bukan mustahil akan mengharumkan nama kopi Lembang juga, nantinya.
Yoseph juga menjelaskan bahwa denyut gejolak bangkitnya kopi
di tempat yang merupakan lahan asal-usul
pertanian kopi nusantara pada jaman Belanda, juga ditandai oleh
berdirinya usaha wisata dan edukasi kopi dan luwak di Cikole, Lembang. Ada
banyak kelompok tani selain Yoseph dkk yang sudah bergerak sejak beberapa tahun
terakhir. Diramalkan, dalam beberapa waktu ke depan, kopi Lembang akan cetar
membahana.
Setelah lebih dari 3 jam berjalan dan bercerita tentang
nostalgia dan masa depan kopi nusantara, kami kembali ke rumah Yoseph, tempat
benih dan bibit disiapkan sebelum naik gunung untuk ditanam.
Yoseph kemudian menyangrai (roasting) biji kopi yang telah dijemur (green bean).Dengan kompor
gas dan alat sangrai tradisional dari tanah liat, proses sangrai merebakkan
aroma kuat yang khas. Sekira 20 menit, proses pemanggangan selesai, biji kopi
coklat kehitaman didinginkan, lalu digiling. Yoseph membuat kopi tubruk,
sedangkan Harris membuat kopi dengan teknik french press dan moka pot. Selain
kopi yang diproduksi Yoseph, kami juga membawa kopi luwak asal Bandung selatan
untuk “diadu”. Hasilnya, kopi Yoseph menang kesegaran, aroma, kemanisan dan
karamel. Inilah tanda-tanda kopi Lembang kembali berkembang.

